Minggu, 29 Juli 2012

Terkabulnya Doa "Orang-orang Berakal" yang Dizalimi



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


  SURAH YÂ SÎN JANTUNG AL-QURAN

BAB 20

Terkabulnya  Doa “Orang-orang   Berakal”  
yang Dizalimi

                                                                    Oleh
                                                                                
Ki Langlang Buana Kusuma


Dalam BAB  19 telah dijelaskan mengenai ancaman pengusiran  dan ancaman untuk melakukan kemurtadan dari agama Allah yang diajarkan oleh para rasul Allah, sebagaimana yang dilakukan para pemuka kaum Nabi Syu’aib a.s. terhadap beliau dan para pengikutnya yang beriman, firman-Nya:
قَالَ الۡمَلَاُ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِہٖ لَنُخۡرِجَنَّکَ یٰشُعَیۡبُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَکَ مِنۡ قَرۡیَتِنَاۤ  اَوۡ  لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ قَالَ اَوَ لَوۡ  کُنَّا کٰرِہِیۡنَ ﴿۟﴾ قَدِ افۡتَرَیۡنَا عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اِنۡ عُدۡنَا فِیۡ مِلَّتِکُمۡ  بَعۡدَ  اِذۡ  نَجّٰنَا اللّٰہُ مِنۡہَا ؕ وَ مَا یَکُوۡنُ  لَنَاۤ  اَنۡ نَّعُوۡدَ  فِیۡہَاۤ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّنَا ؕ وَسِعَ رَبُّنَا کُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًا ؕ عَلَی اللّٰہِ تَوَکَّلۡنَا ؕ رَبَّنَا افۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ قَوۡمِنَا بِالۡحَقِّ وَ اَنۡتَ خَیۡرُ  الۡفٰتِحِیۡنَ ﴿﴾
Pemuka-pemuka kaumnya yang sombong berkata: “Hai Syu’aib, niscaya  kami akan mengusir engkau, dan juga orang-orang yang telah beriman beserta engkau dari kota kami, atau kamu harus kembali ke dalam agama kami.” Ia berkata: “Apakah walaupun kami benar-benar tidak menyukainya?  Sungguh kami telah mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah, seandainya  kami kembali ke dalam agama kamu, setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan sekali-kali tidak  layak bagi kami kembali ke dalamnya kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki. Ilmu  Tuhan kami meliputi segala sesuatu, kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami,  berilah keputusan di antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi Keputusan.” (Al-A’rāf [6]:89-90).

Kezaliman yang Berulang

  Ancaman melakukan kekerasan dan pemaksaan seperti itu terjadi di setiap zaman kedatangan para rasul Allah, termasuk di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِرُسُلِہِمۡ لَنُخۡرِجَنَّکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِنَاۤ  اَوۡ لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ ﴿﴾
Dan   orang-orang yang kafir  kepada rasul-rasul mereka berkata: “Niscaya   kami akan mengusir kamu dari kota kami, atau kamu harus kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: “Niscaya Kami akan membina-sakan  orang-orang yang zalim itu. Dan  niscaya Kami akan menempatkan kamu di bumi ini setelah mereka. Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.”   (Ibrahim [14]:14-15).
       Dengan demikian ancaman para pemuka “penduduk kota”   terhadap 3 orang rasul Allah yang diutus kepada mereka pada hakikatnya merupakan “ancaman klasik” yang  kembali berulang, firman-Nya:
قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti, niscaya kami akan merajammu,  dan niscaya azab yang pedih akan menimpa kamu dari  kami” (Yā Sīn [36]:19).
Rajama-hu berarti: ia merajamnya; ia melempari dan membunuh dia (Lexicon Lane). Jadi, mereka bukan hanya telah menisbahkan berbagai kemalangan  dan bencana yang menimpa mereka kepada para rasul Allah, bahkan mereka mengancam akan mengusir  dengan paksa atau akan membunuh para rasul Allah tersebut.  
        Terhadap tuduhan dan ancaman   dari para pemuka “penduduk  kota” tersebut  selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا طَآئِرُکُمۡ مَّعَکُمۡ ؕ اَئِنۡ ذُکِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  قَوۡمٌ  مُّسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾
Mereka, para rasul, berkata: “Kemalangan kamu itu bersama dirimu sendiri. Apakah jika kamu  diperingatkan kamu mengancam kami? Bahkan kamu adalah  kaum yang melampaui batas.” (Yā Sīn [36]:20).

Mereka yang Mata Ruhaninya Buta &
“Orang-orang yang Berakal”

      Demikianlah, apabila hati telah keras membatu maka mata ruhani pun menjadi buta (QS.17:73; QS.22:46-49),    akibatnya sekali pun berbagai Tanda-tanda Allah atau mukjizat diperlihatkan oleh para rasul Allah di hadapan mereka maka semuanya itu tidak akan membuat mereka sadar dari kesesatannya  (QS.6:112-114), firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73).
 Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani mereka dengan cara yang wajar di dunia ini (QS.3:191-195)   akan tetap  luput dari penglihatan ruhani di dalam akhirat. Al-Quran menyebut mereka yang tidak merenungkan Tanda-tanda Allah serta tidak memperoleh manfaat darinya  “buta”. Orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta.
      Sebaliknya, mereka yang “mata ruhaninya” berfungsi dengan baik --  yakni “ūlil albāb – orang-orang yang berakal” -- maka dengan melihat Tanda-tanda Allah yang tersebar di alam semesta  ini dan dengan melihat Tanda-tanda zaman,  mereka itu akhirnya akan dapat mengenal  dan beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37), firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿ ﴾ۚۙ   الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ ﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿ ﴾   رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿ ﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿  ﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu  orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkata: “Ya Tuhan kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.  Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  ke-imanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah beriman. Wahai Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai Tuhan kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).
        Berfungsinya  mata ruhani   orang-orang yang berakal (ūlil albāb) itulah -- yang  dengan karunia Allah Swt. -- menyebabkan mereka mengenal dan beriman kepada rasul Allah,  yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka. Namun sebagai akibat dari berimannya mereka itu maka Sunnatullah -- yang terjadi para para rasul Allah terdahulu dan para pengikutnya -- berlaku pula atas mereka, yakni mereka akan mengalami  berbagai bentuk kezaliman  dari para pemuka kaum yang mendustakan dan menentang rasul Allah tersebut, sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti, niscaya kami akan merajammu,  dan niscaya azab yang pedih akan menimpa kamu dari  kami” (Yā Sīn [36]:19).

Pengabulan Doa dan Penerimaan Amal Shaleh

       Namun justru berbagai bentuk penderitaan di jalan Allah itulah yang membuat  doa-doa mereka dikabulkan Allah Swt., sebagaimana   dikemukakan oleh lanjutan firman Allah Swt. tersebut:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ   تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Tuhan mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu adalah dari sebagian lain,  maka orang-orang yang  hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai sebagai ganjaran dari sisi Allah,   dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran.”  (Ali ‘Imran [3]:196).
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  keadaan akhir yang pasti akan menimpa para penganiaya mereka, jika mereka tidak juga mau bertaubat dari kesesatannya, dan keadaan akhir yang akan dinikmati oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt. dan taat kepada rasul Allah yang mereka imani, firman-Nya:
لَا یَغُرَّنَّکَ تَقَلُّبُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِی الۡبِلَادِ  ﴿﴾ؕ  مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿﴾   لٰکِنِ الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا رَبَّہُمۡ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا نُزُلًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ  لِّلۡاَبۡرَارِ ﴿﴾
Janganlah sekali-kali engkau terpedaya oleh lalu-lalang orang-orang kafir di dalam negeri.   Itu adalah sedikit kesenangan sementara  kemudian tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya.   Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawah-nya mengalir sungai-sungai, mereka kekal  di dalamnya, suatu hidangan dari sisi Allah, dan apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang berbuat kebajikan.  (Ali ‘Imran [3]:197-199).
       Kalimat “suatu hidangan dari sisi Allah”, kata nuzul itu ism masdar dari nazala, yang berarti: ia turun; ia tinggal atau menetap di satu tempat; mengandung arti (1) tempat tamu-tamu menginap (2) makanan yang disediakan untuk tamu-tamu (Lexicon Lane). Kalimat tersebut  merupakan  “penghormatan khusus” dari Allah Swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang hakiki, yang demi mempertahankan Tauhid Ilahi telah rela menderita  mengalami berbagai bentuk kezaliman yang dilakukan para para penentang rasul Allah yang mereka telah beriman kepadanya, sebagaimana firman-Nya sebelum ini menganei “orang-orang yang berakal”:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu" maka kami telah beriman…” (Ali ‘Imran [3]:191).

(Bersambung).


Rujukan: The Holy Quran
Editor:    Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar”, 10 Ramadhan 2012
Ki Langlang Buana Kusuma



Ancaman Pengusiran & Kembali Lagi Ke "Agama Nenek Moyang"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


  SURAH YÂ SÎN JANTUNG AL-QURAN

BAB 19

Ancaman Pengusiran dan
Kembali Lagi Ke “Agama Nenek Moyang”

                                                                   Oleh
                                                                                
Ki Langlang Buana Kusuma


Dalam BAB 17 dan BAB 18 telah dijelaskan mengenai firman Allah Swt. berikut ini tentang penolakan penduduk kota terhadap 3 orang  rasul Allah yang diutus kepada mereka:
قَالُوۡا مَاۤ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا ۙ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ  الرَّحۡمٰنُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۙ اِنۡ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا تَکۡذِبُوۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata:  ”Kamu sekali-kali tidak lain hanya  manusia seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pemurah sekali-kali tidak menurunkan sesuatu, kamu tidak lain hanya berdusta belaka.”  (Yā Sīn [36]:16).
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai jawaban para rasul Allah terhadap tuduhan mereka:
قَالُوۡا رَبُّنَا یَعۡلَمُ  اِنَّاۤ  اِلَیۡکُمۡ لَمُرۡسَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا عَلَیۡنَاۤ  اِلَّا  الۡبَلٰغُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami benar-benar diutus kepada kamu.   Dan  tugas  kami  sekali-kali tidak lain hanya menyampaikan dengan jelas.” (Yā Sīn [36]:17-18).

Supaya Mereka   Merendahkan Diri

     Sudah merupakan Sunnatullah, guna menyadarkan kaum-kaum yang kepada mereka para rasul Allah telah diutus, Allah Swt. menimpakan berbagai bentuk bencana -- sebagai akibat pendustaan dan penentangan  mereka  -- supaya  mereka merendahkan diri,  firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَاۤ  اِلٰۤی  اُمَمٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِالۡبَاۡسَآءِ وَ الضَّرَّآءِ لَعَلَّہُمۡ یَتَضَرَّعُوۡنَ ﴿﴾ فَلَوۡلَاۤ  اِذۡ جَآءَہُمۡ بَاۡسُنَا تَضَرَّعُوۡا وَ لٰکِنۡ  قَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ وَ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ  مَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar  telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, lalu  Kami menghukum mereka dengan kemiskinan dan kesusahan supaya mereka merendahkan diri.    Lalu  mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika datang kepadanya azab Kami,  bahkan  hati mereka semakin keras dan syaitan menampakkan indah kepada mereka apa yang senantiasa mereka  kerjakan.  (Al-An’ām [6]:43-44).
     Kata-kata lau lā (lalu mengapa) di sini tidak digunakan untuk menyatakan pertanyaan belaka melainkan juga sebagai cetusan rasa kasihan. Dengan demikian ayat ini berarti, “Seharusnya mereka merendahkan diri di hadapan  Allah Swt.,  tetapi sayang mereka tidak berbuat demikian.”

Ancaman Pengusiran &
Kembali Kepada “Agama Nenek-Moyang”

        Tetapi daripada mereka sadar dari kesesatannya mereka malah menisbahkan  berbagai kemalangan yang menimpa mereka itu adalah gara-gara kedatangan para rasul Allah tersebut,  dan mengancam akan mengusir paksa mereka, firman-Nya:
قَالُوۡۤا اِنَّا تَطَیَّرۡنَا بِکُمۡ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہُوۡا لَنَرۡجُمَنَّکُمۡ وَ لَیَمَسَّنَّکُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ  اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Mereka berkata: “Sesungguhnya kemalangan kami karena kamu, jika kamu tidak benar-benar berhenti, niscaya kami akan merajammu,  dan niscaya azab yang pedih akan menimpa kamu dari  kami” (Yā Sīn [36]:19).
      Rajama-hu berarti: ia merajamnya; ia melempari dan membunuh dia (Lexicon Lane). Jadi, mereka bukan hanya telah menisbahkan berbagai kemalangan  dan bencana yang menimpa mereka kepada para rasul Allah, bahkan mereka mengancam akan mengusir  dengan paksa atau akan membunuh para rasul Allah tersebut. Berikut firman-Nya mengenai Nabi Syu’aib a.s.:
 قَالَ الۡمَلَاُ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا مِنۡ قَوۡمِہٖ لَنُخۡرِجَنَّکَ یٰشُعَیۡبُ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَکَ مِنۡ قَرۡیَتِنَاۤ  اَوۡ  لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ قَالَ اَوَ لَوۡ  کُنَّا کٰرِہِیۡنَ ﴿۟﴾ قَدِ افۡتَرَیۡنَا عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اِنۡ عُدۡنَا فِیۡ مِلَّتِکُمۡ  بَعۡدَ  اِذۡ  نَجّٰنَا اللّٰہُ مِنۡہَا ؕ وَ مَا یَکُوۡنُ  لَنَاۤ  اَنۡ نَّعُوۡدَ  فِیۡہَاۤ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّنَا ؕ وَسِعَ رَبُّنَا کُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًا ؕ عَلَی اللّٰہِ تَوَکَّلۡنَا ؕ رَبَّنَا افۡتَحۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ قَوۡمِنَا بِالۡحَقِّ وَ اَنۡتَ خَیۡرُ  الۡفٰتِحِیۡنَ ﴿﴾
Pemuka-pemuka kaumnya yang sombong berkata: “Hai Syu’aib, niscaya  kami akan mengusir engkau, dan juga orang-orang yang telah beriman beserta engkau dari kota kami, atau kamu harus kembali ke dalam agama kami.” Ia berkata: “Apakah walaupun kami benar-benar tidak menyukainya?    Sungguh kami telah mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah, seandainya  kami kembali ke dalam agama kamu, setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Dan sekali-kali tidak  layak bagi kami kembali ke dalamnya kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki. Ilmu  Tuhan kami meliputi segala sesuatu, kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami,  berilah keputusan di antara kami dan kaum kami dengan haq dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi Keputusan.” (Al-A’rāf [6]:89-90).
Kata-kata “Apakah walaupun kami benar-benar tidak menyukainya?” menunjukkan bahwa di sepanjang masa orang-orang yang baik dan cendekia telah berkeyakinan bahwa kekerasan tidak seyogianya digunakan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kata-hati manusia termasik masalah keyakinan agama,  karena paksaan hanya akan menimbulkan  sikap  munafik  dan  khianat, bukannya keikhlasan.
Itulah sebabnya  Allah Swt. dalam Al-Quran dengan tegas  berfirman: "Tidak ada paksaan dalam agama",   karena  "kebenaran agama Islam (Al-Quran) nyata bedanya dari kesesatan" (QS.2:257), jadi untuk menyebarkan amanat Islam ke seluruh dunia tidak memerlukan cara-cara paksaan dan kekerasan melainkan harus melalui cara-cara rahmatan lil ‘ālamīn”  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.21:108).

Ancaman Klasik yang Berulang di Akhir Zaman

    Ancaman melakukan pengusiran secara paksa (merajam) atau meminta rasul-rasul Allah dan para pengikutnya untuk kembali kepada “agama nenek-moyang mereka”  merupakan ancaman klasik dari para penentang rasul Allah yang selalu berulang di setiap zaman, termasuk di Akhir Zaman ini terhadap para anggota Jemaat Ahmadiyah, firman-Nya:
 وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِرُسُلِہِمۡ لَنُخۡرِجَنَّکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِنَاۤ  اَوۡ لَتَعُوۡدُنَّ فِیۡ مِلَّتِنَا ؕ فَاَوۡحٰۤی اِلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ لَنُہۡلِکَنَّ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَنُسۡکِنَنَّـکُمُ الۡاَرۡضَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامِیۡ وَ خَافَ وَعِیۡدِ ﴿﴾
Dan   orang-orang yang kafir  kepada rasul-rasul mereka berkata: “Niscaya   kami akan mengusir kamu dari kota kami, atau kamu harus kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: “Niscaya Kami akan membina-sakan  orang-orang yang zalim itu.    Dan  niscaya Kami akan menempatkan kamu di bumi ini setelah mereka. Inilah janji bagi siapa yang takut akan martabat-Ku dan takut kepada ancaman-Ku.”   (Ibrahim [14]:14-15).
        Al-Quran telah memakai bentuk mufrad (tunggal - Aku) dan juga jamak (Kami) kedua-duanya untuk kata pengganti bagi Wujud Yang Maha Agung itu. Di mana jika kekuasaan dan kemuliaan  Allah Swt.  yang hendak dinyatakan maka bentuk jamaklah (Kami) yang dipakai; di mana sifat Ghaniy (Yang Maha Cukup dalam dzat-Nya sendiri) dan Shamad (tidak tergantung dari siapa pun) yang hendak ditekankan, maka bentuk mufrad (tunggal - Aku) itulah yang dipergunakan.
        Atau seperti dinyatakan oleh beberapa alim ulama rabbani, di mana Allah Swt. bermaksud menimbulkan suatu hasil dengan perantaraan malaikat-malaikat maka dipakailah bentuk jamak (Kami); tetapi di mana satu pekerjaan akan dilaksanakan dengan perantaraan suatu takdir Ilahi yang khas  maka bentuk mufradlah yang dipakai (Aku). Ayat sekarang ini menggabungkan penggunaan jamak dan mufrad kedua-duanya.
        Terhadap tuduhan dan ancaman   tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالُوۡا طَآئِرُکُمۡ مَّعَکُمۡ ؕ اَئِنۡ ذُکِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  قَوۡمٌ  مُّسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾
Mereka, para rasul, berkata: “Kemalangan kamu itu bersama dirimu sendiri. Apakah jika kamu  diperingatkan kamu mengancam kami? Bahkan kamu adalah  kaum yang melampaui batas.” (Yā Sīn [36]:20).


(Bersambung).


Rujukan: The Holy Quran
Editor:    Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar”, 9 Ramadhan 2012
Ki Langlang Buana Kusuma

Sabtu, 28 Juli 2012

Tuntutan-tuntutan yang Serampangan



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


  SURAH YÂ SÎN JANTUNG AL-QURAN

BAB 18

Tuntutan-tuntutan yang Serampangan

                                                                     Oleh
                                                                                
Ki Langlang Buana Kusuma


Dalam BAB  17 telah dikemukakan 2 tuduhan klasik para penentang rasul Allah terhadap wujud-wujud suci tersebut  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- yakni (1) mengada-ada dusta atas nama Allah, dibantu oleh kaum lain; (2) Al-Quran adalah kumpulan kisah-kisah kaum purbakala. (QS.25:5-6), Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai tuduhan mereka itu:
وَ قَالُوۡا مَالِ ہٰذَا الرَّسُوۡلِ یَاۡکُلُ الطَّعَامَ وَ یَمۡشِیۡ  فِی الۡاَسۡوَاقِ ؕ لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَلَکٌ فَیَکُوۡنَ مَعَہٗ نَذِیۡرًا ۙ﴿﴾
Dan mereka berkata: “Rasul macam apakah ini, ia makan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa  tidak diturunkan   malaikat kepadanya supaya ia menjadi seorang pemberi peringatan bersama-sama dengannya? (Al-Furqān [25]:8).
      Orang-orang kafir mempunyai tanggapan yang sangat rendah sekali mengenai nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya. Mereka telah membuat patokan yang mereka adakan sendiri untuk menguji kebenaran rasul-rasul Allah,  akibatnya bahwa daripada mendapatkan jalan yang lurus, malahan mereka terus meraba-raba dalam kegelapan, keraguan, dan kekafiran.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai tuduhan mereka:
اَوۡ یُلۡقٰۤی اِلَیۡہِ کَنۡزٌ اَوۡ تَکُوۡنُ لَہٗ جَنَّۃٌ یَّاۡکُلُ مِنۡہَا ؕ وَ قَالَ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ   اِلَّا  رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿ ﴾   اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿٪ ﴾  تَبٰرَکَ الَّذِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ جَعَلَ لَکَ خَیۡرًا مِّنۡ ذٰلِکَ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ وَ  یَجۡعَلۡ  لَّکَ  قُصُوۡرًا ﴿ ﴾
“Atau hendaknya diturunkan kepadanya khazanah  atau ada baginya kebun untuk makan darinya.” Dan  orang-orang yang zalim itu berkata:  ”Kamu tidak mengikuti melainkan seorang laki-laki yang kena sihir.”    Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat tamsilan bagi engkau, maka mereka telah sesat dan mereka tidak dapat menemukan jalan. Maha Beberkat Dia Yang jika Dia menghendaki akan menjadikan bagi engkau yang lebih baik dari itu,  kebun-kebun yang di bawahnya me-ngalir sungai-sungai dan akan menjadikan bagi engkau istana-istana.   (Al-Furqān [25]:9-10).

Tuntutan Khazanah Duniawi

     Ayat ini mengandung arti bahwa tanggapan orang-orang kafir mengenai bagaimana seharusnya corak dan macam seorang nabi Allah adalah jauh sekali dari kenyataan, dan menampakkan kepicikan mereka tentang maksud dan tujuan kebangkitan nabi-nabi. Nabi-nabi Allah dibangkitkan -- demikian ayat ini memberitahukan -- adalah untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan, keraguan, dan kekafiran, masuk ke dalam cahaya keyakinan dan kenikmatan ruhani,   bukan untuk menimbun kekayaan dan berfoya-foya serta bersuka-ria.
        Akan tetapi meskipun patokan yang dibuat sendiri oleh orang-orang kafir, yakni, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  harus memiliki harta, pangkat, kebun-kebun, dan istana-istana adalah tidak berarti apa-apa, namun untuk menyadarkan mereka tentang kepalsuan kedudukan mereka, Allah Swt. akan memberikan kepada beliau saw. serta pengikut-pengikut beliau harta yang lebih banyak, kebun-kebun, dan istana-istana yang lebih besar, lagi lebih baik dari apa-apa yang dituntut oleh orang-orang kafir. Dan sungguh-sungguh Dia telah menganugerahkan kepada pengikut-pengikut Nabi Besar Muhammad saw.  istana-istana dan kebun-kebun kepunyaan raja-raja Iran dan Bizantina (Romawi).
       Dalam Surah Bani Israil Allah Swt. mengemukakan secara rinci tuntutan duniawi yang dikemukakan orang-orang kafir Quraisy Makkah kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ  لَنَا مِنَ  الۡاَرۡضِ  یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾   اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ  مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ  الۡاَنۡہٰرَ  خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾   اَوۡ تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾
Dan mereka berkata: “Kami tidak akan pernah beriman kepada engkau sebelum engkau memancarkan dari bumi sebuah mata air untuk kami, atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai-sungai yang deras alirannya di tengah-tengahnya,   atau engkau menjatuhkan kepingan-kepingan langit  atas kami sebagaimana telah engkau dakwakan, atau engkau mendatangkan Allah dan para malaikat berhadap-hadapan. (Bani Israil [17]:91-93).
      Ketika orang-orang Makkah terbungkam oleh jawaban-jawaban Al-Quran mengenai pertanyaan-pertanyaan dan keberatan-keberatan mereka tentang hakikat ruh (QQs.17:86-90),  mereka berputar-balik dan menuntut kepada Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa jika Al-Quran meliputi segala macam ilmu, kemajuan,  beliau saw.  harus dapat memperlihatkan mukjizat-mukjizat — misalnya membuat beberapa mata air memancar keluar dari bumi, membuat kebun-kebun serta membangun rumah-rumah dari emas bagi diri beliau sendiri, dan sebagainya.
Tuntutan-tuntutan tidak masuk akal dan serampangan  yang mereka kemukakan terus berubah, firman-Nya:
اَوۡ  یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿٪﴾
Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit, tetapi kami tidak akan pernah mempercayai kenaikan engkau ke langit hingga engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami dapat membacanya.” Katakanlah: “Maha Suci Tuhan-ku, aku tidak lain melainkan seorang manusia  sebagai seorang rasul.” (Bani Israil [17]:94).
          Sebagai jawaban terhadap tuntutan-tuntutan mereka, yang jauh dari kesopanan itu, orang-orang kafir diberitahu, bahwa tuntutan-tuntutan itu bertalian dengan Allah Swt. atau Nabi Besar Muhammad saw.. Tuntutan yang pertama adalah asal omong dan bunyi belaka, sedang Allah Swt. adalah di atas segala hal yang serampangan semacam itu.

Rasul dari Kalangan Malaikat

       Adapun mengenai tuntutan-tuntutan mereka yang bertalian dengan Nabi Besar Muhammad saw., tuntutan-tuntutan itu bertentangan dengan kemampuan-kemampuan beliau saw. yang terbatas sebagai seorang manusia dan tidak selaras dengan tugas beliau sebagai seorang rasul Allah.
وَ مَا مَنَعَ النَّاسَ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡۤا اِذۡ جَآءَہُمُ الۡہُدٰۤی اِلَّاۤ  اَنۡ قَالُوۡۤا اَبَعَثَ اللّٰہُ   بَشَرًا  رَّسُوۡلًا ﴿ ﴾   قُلۡ لَّوۡ کَانَ فِی الۡاَرۡضِ مَلٰٓئِکَۃٌ یَّمۡشُوۡنَ مُطۡمَئِنِّیۡنَ لَنَزَّلۡنَا عَلَیۡہِمۡ مِّنَ  السَّمَآءِ  مَلَکًا  رَّسُوۡلًا ﴿ ﴾   قُلۡ  کَفٰی بِاللّٰہِ  شَہِیۡدًۢا  بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ  بِعِبَادِہٖ  خَبِیۡرًۢا  بَصِیۡرًا ﴿ ﴾
Dan  sekali-kali tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang   kepada mereka, kecuali mereka berkata: “Apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai rasul?”   Katakanlah: “Seandainya di bumi ini ada malaikat yang berjalan-jalan dengan aman tenteram, niscaya  Kami menurunkan seorang malaikat dari langit sebagai seorang rasul kepada mereka.”  Katakanlah:  Cukuplah Allah sebagai saksi di antara aku dan kamu, sesungguhnya Dia   Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Bani Israil [17]:95-97).
        Ayat ini dapat mengandung dua arti: (a) Para malaikat turun kepada manusia yang mempunyai sifat-sifat serupa dengan malaikat, dan bukan kepada manusia yang mempunyai sifat-sifat berlawanan dengan malaikat; dan jika orang kafir pun mendatangkan perubahan menjadi seperti malaikat dalam hidup mereka, maka para malaikat akan turun juga kepada mereka  (QS,41:31-33); (b) Hanya wujud dari jenis yang sama dapat dijadikan contoh dan teladan bagi satu sama lain. Jadi hanya manusia yang dapat memikul amanat Tuhan bagi umat manusia, sebab hanya manusialah yang dapat menjadi contoh bagi manusia lainnya (QS.3:32; QS.33:22)
      Dengan demikian terjawab pulalah tuduhan mereka dalam  ayat Surah Al-Furqān dan Surah Ya Sin sebelum ini:
وَ قَالُوۡا مَالِ ہٰذَا الرَّسُوۡلِ یَاۡکُلُ الطَّعَامَ وَ یَمۡشِیۡ  فِی الۡاَسۡوَاقِ ؕ لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَلَکٌ فَیَکُوۡنَ مَعَہٗ نَذِیۡرًا ۙ﴿﴾
Dan mereka berkata: “Rasul macam apakah ini, ia makan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa  tidak diturunkan   malaikat kepadanya supaya ia menjadi seorang pemberi peringatan bersama-sama dengannya? (Al-Furqān [25]:8).
قَالُوۡا مَاۤ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا ۙ وَ مَاۤ اَنۡزَلَ  الرَّحۡمٰنُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۙ اِنۡ  اَنۡتُمۡ  اِلَّا تَکۡذِبُوۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata:  ”Kamu sekali-kali tidak lain hanya  manusia seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pemurah sekali-kali tidak menurunkan sesuatu, kamu tidak lain hanya berdusta belaka.”  (Yā Sīn [36]:16).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor:    Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar”, 9 Ramadhan 2012
Ki Langlang Buana Kusuma